RESUME ENTERPRISE AND GLOBAL MANAGEMENT OF INFORMATION TECHNOLOGY

0

Ujian                           : Take Home

Mata Kuliah                  : Sistem Informasi Manajemen

Waktu Penyerahan         : 26 September 2012

Waktu Upload               : 25 September 2012

Dosen                          : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc.

BAGIAN I

MENGELOLA TEKNOLOGI INFORMASI

 

            SI (Sistem Informasi) dan TI (Teknologi Informasi) merupakan faktor yang penting bagi perusahaan di seluruh dunia yang ingin mengubah dirinya menjadi power-house bisnis global dengan cara investasi besar dalam e-business, e-commerce, dan usaha TI lainnya yang global. Jadi terdapat kebutuhan nyata bagi para manajer bisnis dan praktisi bisnis untuk memahami bagaimana mengelola fungsi organisasi yang penting ini.

            TI merupakan sumber daya bisnis penting yang harus dikelola dengan benar karena TI memainkan peranan penting dalam memastikan keberhasilan atau memberikan kontribusi pada kegagalan usaha bisnis strategis perusahaan. Berikut ini merupakan salah satu pendekatan terkenal untuk mengelola TI dalam perusahaan besar.

          Pendekatan manajerial ini memiliki tiga komponen utama:

  1. Mengelola pengembangan dan implementasi bersama berbagai strategi bisnis.
  2. Mengelola pengembangan dan implementasi aplikasi dan teknologi bisnis/TI.
  3. Mengelola organisasi TI dan infrastruktur TI.

PERENCANAAN BISNIS/TI

            Secara umum proses perencanaa bisnis/TI memiliki 3 komponen utama, yaitu:

  1. Penegembangan strategi
  2. Manajement sumber daya
  3. Arsitektur

            Arsitektur TI dalam proses perencanaan bisnis/TI, memiliki komponen sebagai berukut:

  1. Platform teknologi
  2. Sumber daya data
  3. Arsitektur aplikasi
  4. Organisasi TI

Mengelola Funsi SI

Terjadinya pergeseran radikal dalam praktek komputasi pada perusahaan dimana pada tahun 1970an manajer pemrosesan data duduk dalam sebuah konsol serta menelusuri semua aset teknologi perusahaan. Kemudian pada tahun 1980an dan awal 1990an departmen memiliki PC dan software sendiri, dan jaringan klien/server menyebar ke semua perusahaan. Kini internet memberi inspirasi pada perusahaan untuk menghubungkan seluruh jaringan tersebut. Hal ini mengakibatkan pemeliharaan PC di setiap jaringan adalah hal yang sangat mahal. Perubahan semacam itu menimbulkan kebutuhan yang mendesak untuk pemusatan.

Sekarang ini tren yang terjadi adalah membuat pengendalian yang lebih terpusat di seluruh manajemen sumber daya TI perusahaan, sementara masih tetap melayani kebutuhan strategis unit-unit bisnisnya, terutama usaha e-business dan e-commerce. Hal ini menghasilkan pengembangan struktur hibrid dengan komponen terpusat dan terdesentralisasi.

Manajemen Pengembangan Aplikasi

            Manajemen pengembangan aplikasi melibatkan pengelolaan berbagai aktivitas seperti analisis dan desain sistem, pembuatan prototipe, pemrograman aplikasi, manajemen proyek, jaminan kualitas, dan pemeliharaan sistem untuk semua proyek pengembangan bisnis/TI yang besar.

Manajemen operasi SI

            Manajemen operasi SI berkaitan dengan penggunaan sumber daya hardware, software, jaringan, dan sumber daya manusia dalam perusahaan atau pusat data unit bisnis dari sebuah organisasi. Aktivitas operasional yang harus dikelola meliputi operasi sistem komputer, manajemen jaringan, pengendalian produksi, dan dukungan produksi.

Manajemen Sumber Daya Manusia dalam TI

            Keberhasilan atau kegagalan dari organisasi layanan informasi terutama terletak pada kualitas orang-orangnya. Banyak perusahaan yang menggunakan komputer merekrut, melatih, dan melatih kembali personel SI yang berkualifikasi. Salah satu pekerjaan yang paling penting dari para manajer layanan informasi adalah untuk merekrut personel yang berkualifikasi dan untuk mengembangkan, mengatur, serta mengarahkan kemampuan kinerja yang ada saat ini.

CIO dan Eksekutif TI Lainnya

            Direktur teknologi informasi (CIO) mengawasi semua penggunaan teknologi informasi dalam banyak perusahaan, dan menyesuaikannya dengan tujuan strategis bisnis. Jadi semua layanan komputer tradisional, teknologi internet, layanan jaringan telekomunikasi dan teknologi SI lainnya yang mendukung jasa adalah tanggung jawab CIO. CIO berkonsentrasi pada perencanaan dan strategi bisnis/TI dan bekerjasama dengan CEO untuk memenuhi tujuan tersebut.

Manajemen Teknologi

            Manajemen dari teknologi yang berubah dengan cepat adalah hal penting untuk organisasi apapun. Perubahan dalam teknologi informasi seperti PC, jaringan klien/server, dan intranet serta internet datang secara cepat dan diperkirakan akan berlanjut di masa datang. Jadi semua teknologi informasi harus dikelola sebagai platform teknologi karena melakukan integrasi secara internal berfokus pada atau secara eksternal menghadapi berbagai aplikasi bisnis. Manajemen teknologi merupakan tanggung jawab CTO (Chief Technology Officer).

Mengelola Layanan Pemakai

            Tim dan kelompok kerja para praktisi bisnis umumnya menggunakan terminal kerja PC, berbagai paket software, dan internet, intranet, serta jaringan lainnya untuk mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi informasi atas aktivitas mereka. Jadi, banyak perusahaan telah merespons dengan membuat fungsi-fungsi layanan pemakai (user service), atau layanan klien untuk mendukung serta mengelola komputasi pemakai akhir dan kelompok kerja.

Kegagalan dalam Manajemen TI

            Mengelola teknologi informasi bukanlah tugas yang mudah. Fungsi sistem informasi memiliki masalah kinerja dalam banyak organisasi. Manfaat yang dijanjikan dalam teknologi informasi belum muncul dalam banyak kasus perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh perusahaan memperlihatkan bahwa banyak perusahaan yang belum berhasil mengelola penggunaan teknologi informasi. Contohnya:

  • Teknologi informasi tidak digunakan secara efektif oleh berbagai perusahaan yang menggunakan TI terutama untuk mengkomputerisasikan proses bisnis tradisional dan bukannya untuk mengembangkan proses e-business yang inovatif dengan melibatkan pelanggan, pemasok, dan mitra bisnis lainnya, e-commerce, serta pendukung keputusan yang dijalankan melalui web.
  • Teknologi informasi tidak digunakan secara efisien oleh sistem informasi yang memberi waktu respons yang lama dan sering kali mati, atau pakar dan konsultan SI yang mengelola berbagai proyek pengembangan aplikasi dengan tidak benar.

Keterlibatan dan Tata Kelola Manajemen

            Tidak ada solusi yang cepat dan mudah dari kegagalan dalam fungsi sistem informasi. Akan tetapi, pengalaman dari berbagai perusahaan yang berhasil menunjukkan bahwa keterlibatan tingkat manaerial dan pemakai akhir yang ekstensif dan berarti, adalah bahan utama dari kinerja sistem informasi yang berkualitas tinggi. Melibatkan para manajer bisnis dalam keterbukaan dari fungsi SI dan praktisi bisnis dalam pengembangan aplikasi SI, seharusnya akan membentuk respons dari manajemen atas berbagai tantangan dalam meningkatkan nilai bisnis teknologi informasi.

 BAGIAN II

MENGELOLA TI GLOBAL

 

            Pada saat ini hampir seluruh perusahaan di seluruh dunia mengembangkan berbagai model baru untuk beroperasi secara kompetitif dalam ekonomi digital. Model-model ini bersifat terstruktur, lincah,  global tetapi lokal, dan berfokus untuk memaksimalkan pengembalian yang disesuaikan dengan resiko dari aset pengetahuan maupun teknologi.

            Sehingga, dimensi internasional telah menjadi bagian penting dalam mengelola perusahaan di ekonomi global yang saling berhubungan dan pasar saat ini dan akan dipengaruhi oleh perkembangan bisnis internasional, dan berhubungan dalam cara tertentu dengan berbagai orang, produk, atau jasa yang asalnya bukan dari negara asal.

Manajemen TI Global

            Gambar 3 mengilustrasikan berbagai dimensi dasar dari pekerjaan mengelola teknologi informasi global yang akan kita bahas dalam bagian ini. Semua aktivitas global harus disesuaikan untuk memperhitungkan tantangan budaya, politik, dan geekonomi yang ada dalam masyarakat bisnis internasional.

Tantangan Budaya, Politik, dan Geoekonomi

            Bisnis yang biasa tidak cukup bagus dalam operasi bisnis global. Hal yang sama juga benar untuk manajemen teknologi e-business global. Terdapat terlalu banyak kenyataan budaya, politik, dan geoekonomi yang harus diahadapi agar dapat berhasil dalam pasar global.

Tantangan politik

            Tantangan politik terbesar adalah banyak negara yang memiliki peraturan yang meregulasi atau melarang transfer data lintas batas nasional (aliran data lintas batas) terutama informasi personal seperti catatan pribadi. Negara lainnya sangat keras, mengenakan pajak, atau melarang impor hardware dan software.

Tantangan geoekonomi

            Tantangan geoekonomi dalam bisnis global dan TI merujuk pada pengaruh geografi atas kenyataan ekonomi dalam aktifitas bisnis internasional. Jauhnya jarak fisik yang terlibat masih merupakan masalah utama, bahkan dalam era telekomunikasi Internet dan perjalanan dengan pesawat jet.

Tantangan budaya

            Tantangan budaya menghadapi bisnis global dan para manajer TI memasukan berbagai perbedaan dalam bahasa, ketertarikan budaya, agama, kebiasaan, perilaku sosial, dan filosofi politik. Tentu saja para manajer TI global harus dilatih dan menajamkan pemahaman atas perbedaan budaya semacam ini sebelum mereka dikirim ke luar negeri atau dibawa ke negara asal perusahaan.

Strategi Bisnis/TI Global

            Banyak perusahaan yang bergeser menuju strategi lintas negara yang mengintegrasikan aktivitas bisnis/TI global mereka melalui kerja sama dekat dan saling ketergantungan antara anak perusahaan mereka di seluruh dunia dengan kantor pusat perusahaan. Bisnis bergeser menjauh dari:

  1. Strategi multinasional dengan anak perusahaan di luar negri beroperasi secara mandiri
  2. Strategi internasional dengan anak perusahaan mandiri tetapi tergantung pada kantor pusat untuk berbagai proses, produk, dan ide baru,
  3. Strategi global, dengan operasi perusahaan di seluruh dunia dikelola secara intensif oleh kantor pusat.

Aplikasi Bisnis/TI Global

            Aplikasi teknologi informasi yang dikembangkan oleh perusahaan global bergantung pada strategi bisnis dan TI serta keahlian dan pengalamannya dalam TI. Akan tetapi, aplikasi TI juga bergantung pada berbagai jenis penggerak bisnis global yaitu permintaan bisnis yang disebabkan oleh sifat industri dan persaingan atau tekanan lingkungannya. Salah satu contohnya adalah perusahaan penerbangan atau jaringan hotel yang memiliki pelanggan global, yaitu pelanggan yang melakukan perjalanan di banyak tempat atau memiliki operasi global.

Standar TI Global

            Manajemen atas standar teknologi (juga disebut sebagai infrastruktur teknologi) adalah dimensi lain dari manajemen TI global, yaitu mengelola hardware, software, sumber daya data, jaringan telekomunikasi, dan fasilitas komputasi yang mendukung operasi bisnis global. Manajemen dari standar TI global  bukan hanya secara teknis rumit, tetapi juga memiliki implikasi besar atas politik dan budaya.

            Mengelola jaringan komunikasi data internasional, termasuk internet, intranet, ekstranet, dan jaringan lainnya, adalah tantangan utama TI global. Membuat fasilitas komputasi secara internasional adalah tantangan global lainnya. Perusahaan dengan operasi bisnis global biasanya membuat atau menyewa integrator sistem untuk pusat-pusat data tambahan dalam anak-anak perusahaan mereka di berbagai negara lain. Pusat-pusat data ini memenuhi kebutuhan komputasi lokal dan regional, dan bahkan membantu menyeimbangkan beban kerja komputasi global melalui hubungan dengan satelit komunikasi.

Internet sebagai Standar TI Global

            Internet dan world wide web telah menjadi komponen yang sangat penting dalam bisnis serta perdagangan internasional, karena dengan adanya internet matriks komputer, informasi, dan jaringan yang saling berhubungan yang mencapai puluhan juta pemakai dari ratusan negara dapat menjadi lingkungan bisnis yang bebas dari halangan dan batas-batas tradisional. Internet dapat membuat hubungan infrastruktur global online memberikan penawaran potensi pada perusahaan menjadi tidak terbatas dalam hal perluasan pasar, mengurangi biaya serta meningkatkan margin laba dengan harga yang biasanya kecil presentasenya dalam anggaran komunikasi perusahaan.

            Internet, bersama dengan teknologi intranet dan ekstranet yang terkait, memberi saluran interaktif yang berbiaya rendah untuk komunikasi dan pertukaran data dengan para karyawan, pelanggan, pemasok, distributor, produsen, pengembang produk, pendukung keuangan, penyedia informasi, dan yang lainnya.

Berbagai Isu Akses Data Global

            Isu-isu akses data global selama ini merupakan subjek kontroversi politik dan hambatan teknologi dalam operasi bisnis global selama bertahun-tahun, tetapi telah menjadi makin jelas bersama dengan pertumbuhan internet serta tekanan e-commerce. Contoh utama adalah isu tentang aliran data lintas negara (transborder data flow – TDF) yang memungkinkan aliran data melintasi batas internasional melalui jaringan telekomunikasi sistem informasi global.

            Banyak negara, terutama yang termasuk uni Eropa melihat TDF sebagai pelanggaran hukum privasi mereka karena dalam banyak kasus, data mengenai individu dipindahkan keluar dari negara tersebut tanpa penjagaan privasi yang jelas.

Berbagai Isu Akses Internet

            Reporters Without Borders (RSF) adalah sebuah organisasi yang bermarkas di Paris yang melaporkan bahwa terdapat 45 negara yang membatasi warga negara mereka mengakses internet. Pada dasarnya, perjuangan antara sensor internet dengan keterbukaan di tingkat nasional berputar di sekitar hal-hal utama: mengendalikan saluran, menyaring aliran, dan memberi hukuman pada pemberi informasi. Di negara-negara seperti Birma, Libya, Korea Utara, Siria, dan negara-negara Asia Tengah dan Kaukasia, akses internet dilarang atau diberi batasan keras melalui ISP yang dikendalikan oleh pemerintah.

Perkembangan Sistem Global

            Pada dasarnya terdapat konflik antara persyaratan sistem lokal dengan global, dan terdapat kesulitan dan menyepakati fitur sistem bersama seperti interface pemakai yang multibahasa serta standar desain yang fleksibel. Semua usaha ini harus dilakukan dalam lingkungan yang menyebarkan keterlibatan dan “kepemilikan” dari sistem oleh para pemakai ahkir lokal.

            Isu perkembangan sistem lainnya timbul dari gangguan yang disebabkan oleh aktivitas implementasi sistem dan pemeliharaannya. Contohnya: “Gangguan dalam giliran kerja ketiga di kota New York akan menimbulkan gangguan layanan tengah hari di Tokyo.”

            Isu perkembangan sistem global lainnya yang penting berhubungan dengan standardisasi global tentang definisi data. Definisi data yang umum penting untuk berbagi data antarbagian dari bisnis internasional. Perbedaan dalam bahasa, budaya, dan standar teknologi dapat membuat standardisasi data global menjadi cukup sulit untuk dilakukan.

Strategi Pengembangan Sistem

            Beberapa strategi dapat digunakan untuk mengatasi beberapa masalah pengembangan sistem yang timbul dalam TI global. Pertama-tama adalah mengubah aplikasi yang digunakan oleh kantor induk ke dalam aplikasi global. Pendekatan lainnya adalah membuat tim pengembangan multinasional dengan orang-orang penting dari beberapa anak perusahaan untuk memastikan bahwa desain sistem tersebut sesuai dengan kebutuhan situs lokal dan kantor pusat perusahaan.

            Pendekatan ketiga disebut sebagai pengembangan parlalel. Hal itu disebabkan karena bagian-bagian dari sistem ditugaskan ke anak perusahaan yang berbeda dan kantor induk untuk mengembangkan pada saat yang bersamaan. Pendekatan terakhir yang dengan cepat telah menjadi pilihan pengembangan utama adalah melakukan outsourcing kegiatan pengembangan ke perusahaan pengembangan global atau luar negri yang memiliki keahlian serta pengalaman yang diburuhkan untuk mengembangkan aplikasi bisnis/TI global.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN PENERAPAN SISTEM INFORMASI PADA SUATU PERUSAHAAN

0

Ujian                           : Take Home

Mata Kuliah                  : Sistem Informasi Manajemen

Waktu Penyerahan         : 26 September 2012

Waktu Upload                : 25 September 2012

Dosen                          : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc.

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar blakang

            Perkembangan bisnis dewasa ini yang semakin pesat dan juga semakin ketat, menuntut para pelaku usaha untuk mampu terus menerus beradaptasi dan berinovasi dalam melakukan usahanya. Hal ini sangat diperlukan agar bisnis yang dijalankannya dapat terus bersaing atau bahkan menjadi market leader. Untuk itu, perusahaan harus mampu melakukan perbaikan dan perubahan yang terus menerus dalam segala hal seperti pengembangan organisasi, pengembangan sumber daya manusia, perencanaan bisnis dan lain sebagainya khususnya dalam pengembangan sistem informasi,  hal tersebut disebabkan oleh pada saat ini hampir semua bentuk dari kegiatan dalam perushaan menggunakan teknologi sistem informasi, teknologi SI dapat membuat suatu sistem yang rumit menjadi lebih mudah, sehingga kinerja menjadi lebih efektif.

   Manfaat dari sistem informasi itu sendiri ialah: untuk pengumpulan data, penyimpanan sampai pengolahan data, kemudian dapat mempermudah pengambilan keputusan, mengidentifikasi masalah, peramalan bisnis dan masih banyak lagi. Sistem informasi Manajemen (SIM) adalah serangkaian sub sistem informasi yang terintergrasi dan mampu mentransformasi data, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dari perusahaan. Oleh karena itu SIM semakin dibutuhkan oleh perusahaan, khususnya dalam meningkatkan kelancaran aliran informasi dalam perusahaan, control kualitas, dan menciptakan aliansi atau kerjasama dengan rekanan lainnya..

Teknologi informasi berperan sebagai alat bantu untuk memudahkan pengelolaan suatu sumber daya yang dimiliki oleh suatu organisasi. Faktor manusia akan sangat menentukan kebaikan dan kegunaan teknologi tersebut. Untuk itu, pengembangan sistem informasi membutuhkan suatu teknik dan perencanaan yang baik agar sistem yang dikembangkan tersebut dapat berjalan dan berfungsi secara efektif dan efisien serta tidak mengalami kegagalan. Terdapat beberapa faktor penentu kegagalan dan keberhasilan dari implementasi sistem informasi di suatu perusahaan (O’Brien, 2005).


1.2 Tujuan

            Tujuan dari penulisan makalah ini mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan atau kesusksesan dalam implementasi sistem informasi dalam suatu perusahaan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.  Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

 

Tujuan Umum Sistem Informasi Manajemen :

  • Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk,dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  • Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
  • Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

 

Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwamanajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).

Sistem informasi manajemen (SIM) bukan sistem informasi keseluruhan, karena tidak semuainformasi di dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang otomatis.Aspek utama dari sistem informasi akan selalu ada di luar sistem komputer.

Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuantertentu dalam suatu kegiatan manajemen. Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. Banyak organisasi yang gagal membangun SIM karena :1.Kurang organisasi yang wajar 2. Kurangnya perencanaan yang memadai 3. Kurang personil yang handal 4. Kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancangsistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat. SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat. Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang. Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer.

Prinsip utama perancangan SIM: SIM harus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama. Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika

Sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan (building blok), yang terdiri dari komponen input, komponen model, komponen output, komponen teknologi, komponen hardware, komponen software, komponen basis data, komponen kontrol, dan komponen jaringan. Semua komponen tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.

1)        Komponen input

Input mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi. Input disini termasuk metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumendokumen dasar.

2)        Komponen model

Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yag sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.

3)        Komponen output

Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua pemakai sistem.

4)        Komponen teknologi

Teknologi merupakan “tool box” dalam sistem informasi, Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, neghasilkan dan mengirimkan keluaran, dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.

5)        Komponen hardware

Hardware berperan penting sebagai suatu media penyimpanan vital bagi sistem informasi.Yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem informasi.

6)        Komponen software

Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah,menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk menciptakan suatu informasi.

7)        Komponen basis data

Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di pernagkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. Basis data diakses atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).

8)        Komponen kontrol

Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidak efisienan, sabotase dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa halhal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.

9)        Komponen Jaringan

Untuk menghubungkan komputer-komputer perangkat keras dalam sebuah kesatuan diperlukan media untuk menghubungi antara hardware dan software sistem informasi yang digunakan di suatu perusahaan. Komponen jaringan terdiri dari hardware dan software jaringan. Hardware komponen jaringan berupa kartu penghubung jaringan (Network Interface Card), media penghubung jaringan, HUB (konsentrator), repeater, bridge, dan router. Komponen software jaringan berupa sistem operasi jaringan, network adapter drive, dan protokol jaringan.

 

2.2 Peranan Sistem Informasi

Sistem informasi sangat berperan untuk memadukan semua unsur-unsur yang saling berhubungan sehingga sistem informasi tersebut harus dipandang sebagai suatu sistem tunggal, akan tetapi cukup kompleks sehingga perlu diuraikan menjadi subsistem-subsistem untuk perencanaan dan pengendalian pengembangannya serta untuk mengendalikan operasinya. Menguraikan informasi menjadi subsistem-subsistem yang lebih kecil penting sekali karena hal ini memungkinkan dilaksanannya penguraian lebih lanjut setiap subsistem diuraikan dan dirancang secara cermat sehingga sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan untuk itu, dan dapat berhubungan dengan tepat, maka bagian-bagian akan sesuai dan bekerja sama sepenuhnya.

Menurut O’Brien (2005), terdapat 3 peran utama sistem informasi dalam bisnis yaitu:

  • Mendukung proses bisnis dan operasional
  • Mendukung pengambilan keputusan

Mengembangkan solusi sistem informasi yang berhasil baik mengatasi masalah bisnis adalah tantangan utama untuk para manajer dan praktisi bisnis saat ini. Sebagai seorang praktisi bisnis bertanggungjawab untuk mengajukan atau mengembangkan teknologi informasi baru atau meningkatkannya bagi perusahaan. Adapun untuk seorang manajer bertanggungjawab untuk mengelola usaha pengembangan yang dilakukan para spesialis sistem informasi dan para pemakai akhir bisnis. Mengembangkan solusi sistem

informasi untuk mengatasi masalah bisnis dapat diimplementasikan dan dikelola sebagai beberapa proses bertahap atau beberapa siklus seperti ditunjukkan pada Gambar 4 sebagai berikut (O’Brien, 2005).

 

2.3 Keuntungan Penerapan Sistem Informasi

  1. Meningkatkan efisiensi operasional

Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya (low-cost leadership). Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar.

  1. Memperkenalkan inovasi dalam bisnis

Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya.

  1. Membangun sumber-sumber informasi strategis

Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHSAN

 

3.1  Pertanyaan

Faktor faktor yang dapat mempengaruhi kegagalan dan kesuksesan dalam pembangunan dan penerapan sistem informasi di suatu perusahaan.

 

3.2 Jawaban

Berdasarkan buku O’Brien  dan Marakas (2009) terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor tersebut ialah: yang menyebabkan suatu orgnisasi sukses dalam menerapkan sistem informasi  ialah:

  1. Adanya dukungan dari manajemen eksekutif
  2. Keterlibatan end user
  3. Penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas
  4. Perencanaan yang matang
  5. Harapan perusahaan yang nyata

Sementara faktor-faktor yang menyebabkan suatu perusahaan gagal dalam menerapan sistem informasi ialah:

  1. Kurangnya dukungan manajemen eksekutif dan input dari end-user
  2. Pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang tidak lengkap dan selalu berubah-ubah
  3. inkompetensi secara teknologi

Berikut uraian dari poin-poin diatas:

a. Kurangnya tidaknya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen

Semua keputusan pada suatu perusahaan berada pada pihak manajemen, jika pihak manajemen memberikan dukungan penuh pada suatu proyek sistem informasi maka hal tersebut akan memberikan dampak positif pada pengguna dan staf pelayanan teknis informasi. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penghargaan terhadap waktu dan tenaga yang telah dicurahkan pada proyek tersebut, dukungan bahwa proyek akan menerima cukup dana, serta berbagai perubahan organisasi yang diperlukan. Jika pihak manajeman kurang memberikan dukungan, maka dapat mengakibatkan penerapan sistem informasi perusahaan menjadi sia-sia, karena akan menyebabkan banyak hambatan dalam prosesnya. Dengan adanya sistem informasi akan menyebabkan perubahan pada pengorganisasian pada perusahaan tersebut, jika penerapan sistem informasi tidak mendapatkan dukungan penuh, akan menyebabkan ketidakpastian dan ancaman bagi posisi dan peran para pegawainya, hal ini pun akan dapat menyebabkan kegagalan dalam penerapan sistem informasi. Oleh karna itu dukungan penuh dari pihak manajemen sangat lah penting dalam menentukan keberhasilan sistem informasi dalam perusahaan.

.

b. Keterlibatan atau input dari end user 

Sikap positif dari pengguna terhadap sistem informasi akan sangat mendukung berhasil atau tidaknya penerapan sistem informasi. Sikap positif dalam bentuk dukungan dan kompetensi dari user, serta hubungan yang baik antara user dengan teknisi merupakan faktor sikap yang menguntungkan dan sangat penting bagi berhasilnya penerapan sistem informasi. Sikap positif menentukan tindakan, dan akan berkaitan dengan tingkat penggunaan yang tinggi serta kepuasan terhadap sistem tersebut.

       Melibatakan pengguna dalam desain dan operasi sistem informasi adalah salah satu alternatif yang tepat untuk mendukung keberhasilan sistem informasi pada perusahaan, hal tersebut dikarnakan penguna akan memiliki kempatan untuk dapat mendisain sistem tersebut sesuai dengan kebutuhannya dan memiliki lebih banyak kesempata untuk mengontrol hasilnya, sehingga dengan demikian pada penerapanya akan lebih memudahkan penguna.

Adanya kesenjangan komunikasi antara pengguna dan perancang sistem informasi terjadi karena pengguna dan spesialis sistem informasi cenderung memiliki perbedaan dalam latar belakang, kepentingan dan prioritas. Inilah yang sering dikatakan sebagai kesenjangan komunikasi antara pengguna dan desainer, hal ini juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan penerapan sistem informasi.

 

c.  Perencanaan Memadai

Perencanaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam berbagai aspek, oleh karna ini perencanaan yang memadai merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan berhasil atau tidaknya penerapan sistem informasi. Jika suatu pengembangan dan penerapan sistem informasi tidak didukung dengan perencanaan yang memadai, maka dapat menyebabkan tidak terpenuhinya  keinginan dan kepentingan berbagai pihak di perusahaan. Tanpa adanya perancanaan yang memadai penerapan sistem informasi dapat menjadi hal yang sia-sia. Pada kenyataannya sebagian besar penyedia jasa teknologi informasi kurang sensitif  terhadap manajemen perusahaan, tetapi hanya fokus pada tools yang akan dikembangkan. Kelemahan inilah yang mengharuskan perusahaan untuk mengidentifikasi secara jelas kebutuhan dan spesifikasi sistem informasi yang akan diterapkan berikut manfaatnya terhadap perusahaan. Kemauan perusahaan dalam merancang penerapan sistem informasi berdasarkan sumberdaya yang dimiliki diyakini dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

 

d. Inkompetensi secara Teknologi           

Kesuksesan pengembangan sistem informasi tidak hanya bergantung pada penggunaan alat atau teknologinya saja, tetapi juga manusia  sebagai perancang dan penggunanya. Bodnar dan Hopwood (1995) dalam Murdaningsih (2009) berpendapat bahwa perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Sekitar 30% kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan kurangnya perhatian pada aspek organisasional. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati, untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan.

Sistem informasi harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna. Kompleksitas sistem bukanlah merupakan jaminan perbaikan kinerja, bahkan menjadi hambatan jika tidak didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dalam tahapan implementasinya. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang pengetahuan teknologi informasinya rendah. Jika pengembangan sistem informasi diserahkan pada orang-orang yang kurang berkompeten dibidangnya maka akan berakibat fatal bagi perusahaan ketika sistem tersebut telah diterapkan.Pengembangan sistem informasi sebagai salah satu sarana pencapaian tujuan perusahaan, sehingga keduanya harus relevan, serta perlu disiapkan dengan baik dan matang. Selain itu, perusahaan harus memiliki harapan yang nyata, yaitu yang ingin dicapai dan berusaha dalam meraihnya, sehingga efektivitas dari pengembangan atau penerapan sistem informasi dapat terjadi.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari uraian hasil dan pembahasan pada makalah ini ialah terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan dan kegagalan penerapan atau implementasi sistem informasi di suatu perusahaan Beberapa faktor tersebut ialah: keterlibatan pengguna, dukungan manajemen eksekutif, kejelasan pernyataan kebutuhan, perencanaan, inkompetisi secara teknologi, dan harapan yang nyata serta faktor-faktor lainnya.

 

4.1  Saran

Pengembangan atau penerapan sistem informasi pada suatu perusahaan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal ini dikarenakan, apabila tidak sesuai dengan kebutuhan perusahan akan terjadi ketidakefesienan dan ketidakefektifan informasi, yang akan menyababkan kerugian perusahaan. Agar hal seperti itu terhindar, perusahaan melakukan perencanaan sebaik-baiknya.

 

Daftar Pustaka

http://antho-765.mhs.narotama.ac.id/2012/06/13/jawaban-uas-semester-genap-20112012-sistem-informasi-fe-reguler-a/

http://margani.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/12/25/faktor-penyebab kegagalan keberhasilan-sistem-informasi-perusahaan-jawaban-uat-sim-no-2/

Ariefiani R.  2010. Faktor penentu kesuksesan dan kegagalan pengembangan sistem informasi di suatu perusahaanhttp://rizma.blogstudent.mb.ipb.ac.id. [25 Desember 2010]

Murdaningsih A. 2009. Analisis Pengaruh Partisipasi pemakai terhadap Kepuasan Pemakai Sistem Informasi dalam Pengembangan Sistem Informasi dengan Dukungan Manajemen Puncak, Komunikasi Pemakai-Pengembang, Kompleksitas Sistem, Kompleksitas Tugas, pengaruh Pemakai sebagai Variabel Pemoderasi [skripsi]. Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Muhammadiyah. Surakarta.

O’Brien JA, Marakas G. 2005. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

O’Brien JA, Marakas G. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc.

 

LANGKAH-LANKAH YANG DIPELUKAN DALAM SIKLUS PENGEMBANGAN SUATU SISTEM INFORMASI DAN MANFAAT PROTOTYPING BAGI END USER DAN IT SPESIALIS

0

Ujian                           : Take Home

Mata Kuliah                  : Sistem Informasi Manajemen

Waktu Penyerahan         : 26 September 2012

Waktu Upload               : 25 September 2012

Dosen                          : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc.

 

Pertanyaan:

            Jelaskan dan berikan contoh langkah-langkah yang diperlukan dalam siklus pengembangan suatu sistem informasi untuk membangun dan mengimplementasikan sistem informasi bisnis di suatu perusahaan. Jelaskan pula bagaimana prototyping dapat digunakan sebagai suatu teknik yang efektif untuk meningkatkan  proses pembangunan sistem bagi end users (pengguna sistem informasi) dan bagi  IT specialists (para spesialis sistem informasi).

Jawaban:

                Sistem adalah sekelompok komponen yang saling berhubungan, bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama dengan menerima input serta menghasilkan output dalam proses transformasi yang teratur (O’Brien, 2005). Sedangkan informasi adalah data yang telah diubah men jadi konteks yang berarti dan bergun a bagi para pemakai akhir tertentu (O’Brien, 2005). Pengembangan sistem merupakan penyusunan suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada.

Mengapa Suatu Sistem Perlu Pengembangan

1. Adanya permasalahan-permasalahann berupa:

  • Adanya permasalahan pada sistem yang lama yang menyebabkan sistem tersebut tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan.
  • Adanya pertumbuhan organisasi yang menyebabkan kebutuhan informasi yang semakin luas, peningkatan jumlah data yang harus diolah semakin meningkat, perubahan prinsip akuntansi yang baru menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru, karena sistem yang lama tidak efektif lagi dan tidak dapat memenuhi lagi semua kebutuhan informasi yang dibutuhkan manajemen.

2. Untuk meraih peluang  dan kesempatan

Dalam keadaan persaingan pasar yang ketat, kecepatan informasi atau efisiensi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatan-kesempatan dan peluang-peluang pasar, sehingga teknologi informasi perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi agar dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen.

 

3. Adanya instruksi dari pimpinan atau adanya peraturan pemerintah

Penyusunan sistem yang baru dapat juga terjadi karena adanya instruksi-instruksi dari atas pimpinan ataupun dari luar organisasi, seperti misalnya peraturan pemerintah

Langkah-Langkah Siklus Pengembangan Sistem

            Bila dalam operasi sistem yang sudah dikembangkan terdapat masalah yang tidak dapat diatasi dalam tahap pemeliharaan sistem, maka sistem tersebut memerlukan pengembangan. Untuk mengembangankan suatu sistem terdapat 6 langkah yang perlu dilaksanakan, berikut langkah-langkah pengembangkan sistem:

1. Perencanaan Sistem

Dalam fase perencanaan sistem :

  • Dibentuk suatu struktur kerja strategis yang luas dan pandangan sistem informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pemakai informasi.
  • Proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek dengan prioritas tertinggi akan dipilih untuk pengembangan.
  • Sumber daya baru direncanakan untuk, dan dana disediakan untuk mendukung pengembangan sistem.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sebuah system:

  • faktor-faktor kelayakan yang berkaitan dengan kemungkinan berhasilnya sistem informasi yang dikembangkan dan digunakan,
  • faktor-faktor strategis yang berkaitan dengan pendukung sistem informasi dari sasaran bisnis dipertimbangkan untuk setiap proyek yang diusulkan. Nilai-nilai yang dihasilkan dievaluasi untuk menentukan proyek sistem mana yang akan menerima prioritas yang tertinggi.

            Dalam perencaan, terdapat beberapa kriteria-kriteria kelayakan yang harus dipenuhi/diperhatikan, berikut kriteria-kriteria kelayakan:

  • Kelayakan teknis: untuk melihat apakah sistem yang diusulkan dapat dikembangkan dan diimplementasikan dengan menggunakan teknologi yang ada atau apakah teknologi yang baru dibutuhkan.
  • Kelayakan ekonomis: untuk melihat apakah dana yang tersedia cukup untuk mendukung estimasi biaya untuk sistem yang diusulkan.
  • Kelayakan legal: untuk melihat apakah ada konflik antara sistem yang sedang dipertimbangkan dengan kemampuan perusahaan untuk melaksanakan kewajibannya secara legal.
  • Kelayakan operasional: untuk melihat apakah prosedur dan keahlian pegawai yang ada cukup untuk mengoperasikan sistem yang diusulkan atau apakah diperlukan penambahan/pengurangan prosedur dan keahlian.
  • Kelayakan rencana: berarti bahwa sistem yang diusulkan harus telah beroperasi dalam waktu yang telah ditetapkan. Selain layak, proyek sistem yang diusulkan harus mendukung faktor-faktor strategis,seperti
  • Produktivitas: mengukur jumlah output yang dihasilkan oleh input yang tersedia. Tujuan produktivitas adalah mengurangi atau menghilangkan biaya tambahan yang tidak berarti. Produktivitas ini dapat diukur dengan rasio antara biaya yang dikeluarkan dengan jumlah unit yang dihasilkan.
  • Diferensiasi: mengukur bagaimana suatu perusahaan dapat menawarkan produk atau pelayanan yang sangat berbeda dengan produk dan pelayanan dari saingannya. Diferensiasi dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas, variasi, penanganan khusus, pelayanan yang lebih cepat, dan biaya yang lebih rendah.
  • Manajemen: melihat bagaimana sistem informasi menyediakan informasi untuk menolong manajer dalam merencanakan, mengendalikan dan membuat keputusan. Manajemen ini dapat dilihat dengan adanya laporanlaporan tentang efisiensi produktivitas setiap hari.

2. Analisis Sistem

Dalam fase analisis sistem:

  • Dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan hubungan timbal-balik yang terkait dalam pengembangan sistem; definisi masalah, tujuan, kebutuhan, prioritas dan kendala-kendala sistem; ditambah identifikasi biaya, keuntungan dan estimasi jadwal untuk solusi yang berpotensi.
  • Fase analisis sistem adalah fase profesional sistem melakukan kegiatan analisis sistem.
  • Laporan yang dihasilkan menyediakan suatu landasan untuk membentuk suatu tim proyek sistem dan memulai fase analisis sistem.
  • Tim proyek sistem memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang alasan untuk mengembangkan suatu sistem baru.
  • Ruang lingkup analisis sistem ditentukan pada fase ini. Profesional sistem mewawancarai calon pemakai dan bekerja dengan pemakai yang bersangkutan untuk mencari penyelesaian masalah dan menentukan kebutuhan pemakai.
  • Beberapa aspek sistem yang sedang dikembangkan mungkin tidak diketahui secara penuh pada fase ini, jadi asumsi kritis dibuat untuk memungkinkan berlanjutnya siklus hidup pengembangan sistem.
  • Pada akhir fase analisis sistem, laporan analisis sistem disiapkan. Laporan ini berisi penemuan-penemuan dan rekomendasi. Bila laporan ini disetujui, tim proyek sistem siap untuk memulai fase perancangan sistem secara umum. Bila laporan tidak disetujui, tim proyek sistem harus menjalankan analisis tambahan sampai semua peserta setuju.

3. Perancangan Sistem secara Umum/Konseptual

Dalam fase perancangan sistem:

  • Harus berguna, mudah dipahami dan mudah digunakan
  • Harus dapat mendukung tujuan utama perusahaan
  • Harus efisien dan efektif untuk dapat mendukung pengolahan transaksi, pelaporan manajemen dan mendukung keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen, termasuk tugas-tugas yang lainnya yang tidak dilakukan oleh komputer
  • Harus dapat mempersiapkan rancang bangun yang terinci untuk masingmasing komponen dari sistem informasi yang meliputi data dan informasi, simponan data, metode-metode, prosedur-prosedur, orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak dan pengendalian intern.

4. Evaluasi dan Seleksi Sistem

       Akhir fase perancangan sistem secara umum menyediakan point utama untuk keputusan investasi. Oleh sebab itu dalam fase evaluasi dan seleksi sistem ini nilai kualitas sistem dan biaya/keuntungan dari laporan dengan proyek sistem dinilai secara hati-hati dan diuraikan dalam laporan evaluasi dan seleksi sistem. Jika tak satupun altenatif perancangan konseptual yang dihasilkan pada fase perancangan sistem secara umum terbukti dapat dibenarkan, maka semua altenatif akan dibuang. Biasanya, beberapa alternatif harus terbukti dapat dibenarkan, dan salah satunya dengan nilai tertinggi dipilih untuk pekerjaan akhir. Bila satu alternatif perancangan sudah dipilih, maka akan dibuatkan rekomendasi untuk sistem ini dan dibuatkan jadwal untuk perancangan detailnya.

5. Fase Perancangan Sistem secara Detail/Fungsional

       Fase perancangan sistem secara detail menyediakan spesifikasi untuk perancangan secara konseptual. Pada fase ini semua komponen dirancang dan dijelaskan secara detail. Perencanaan output (layout) dirancang untuk semua layar, form-form tertentu dan laporan-laporan yang dicetak. Semua output dan input direview dan disetujui oleh pemakai dan didokumentasikan. Semua input ditentukan dan format input baik untuk layar dan form-form biasa direview dan disetujui oleh pemakai dan didokumentasikan. Prosedur ditulis untuk membimbing pemakai dan pesonel operasi agar dapat bekerja dengan sistem yang sedang dikembangkan. Kendali-kendali yang dibutuhkan untuk melindungi sistem baru dari macam-macam ancaman dan error ditentukan.

       Laporan ini akan berisis semua spesifikasi untuk masing-masing rancangan sistem yang terintegrasi menjadi satu kesatuan. Laporan ini dapat juga dijadikan sebagai buku pedoman yang lengkap untuk merancang, membuat kode dan menguji system, instalasi peralatan, pelatihan, dan tugas-tugas implementasi lainnya.

       Tujuan dilakukannya review secara menyeluruh ini adalah untuk menemukan error dan kekurangan rancangan sebelum implementasi dimulai. Jika error dan kekurangan atau sesuatu yang hilang ditemukan sebelum implementasi sistem, sumber daya yang bernilai dapat diselamatkan dan kesalahan yang tidak diinginkan terhindari. Setelah semua review secara menyeluruh selesai dilaksanakan, perubahan-perubahan dibuat dan pemakai dan manajer sistem menandatangani laporan perancangan secara detail.

6. Implementasi Sistem dan Pemeliharaan Sistem

Pada fase implementasi sistem dan pemeliharaan sistem:

  • sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi.
  • Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi sistem baru.
  • laporan implementasi yang dibuat pada fase ini ada dua bagian, yaitu rencana implementasi dalam bentuk Gant Chart atau Program and Evaluation Review Technique (PERT) Chart dan penjadwalan proyek dan teknik manajemen. Bagian kedua adalah laporan yang menerangkan tugas penting untuk melaksanakan implementasi sistem, seperti :
    • pengembangan perangkat lunak
    • Persiapan lokasi peletakkan sistem
    • Instalasi peralatan yang digunakan
    • Pengujian Sistem
    • Pelatihan untuk para pemakai sistem
    • Persiapan dokumentasi

Metodologi Pengembangan Sistem

       Metode adalah suatu cara, teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu. Metodologi Pengembangan sistem berarti metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan dan kerangka pemikiran yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi.

Klasifikasi dari metodologi :

  1.  Functional decomposition methodologies

Metodologi ini menekankan pada pemecahan dari sistem ke dalam subsistem-subsistem yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah untuk dipahami, dirancang dan ditetapkan. Yang termasuk dalam kelompok metodologi ini adalah :

  • HIPO (Hierarchy plus Input Process Output)
  • Stepwise Refinement (SR) atau Iterative Stepwise Refinement (ISR)
  • Information Hiding

2.   Data Oriented Methodologies

Metodologi ini menekankan pada karakteristik dari data yang akan diproses. Dikelompokkan ke dalam dua kelas, yaitu :

  1. Data flow oriented methodologies, sistem secara logika dapat digambarkan secara logika dari arus data dan hubungan antar fungsinya di dalam modul-modul di sistem. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :
  • SADT (Structured Analysis and Design Techniques)
  • Composite Design
  • SSAD (Structured System Analysis and Design)
  1. b.      Data Structured oriented methodologies, Metodologi ini menekankan struktur dari input dan output di system,yang termasuk dalam metodologi ini adalah :
  • JSD (Jackson’s System Development)
  • W/O (Warnier/Orr)

3.   Prescriptive Methodologies

Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :

  • ISDOS (Information System Design dan Optimization System), merupakan perangkat lunak yang dikembangkan di University of Michigan. Kegunaan dari ISDOS adalah mengotomatisasi proses pengembangan sistem informasi. ISDOS mempunyai dua komponen, yaitu :
  1. PSL (Program Statement Language), merupakan komponen utama dari ISDOS, yaitu suatu bahasa untuk mencatat kebutuhan pemakai dalam bentuk machine readable form. PSL dirancang sehingga output yang dihasilkannya dapat dianalisis oleh PSA.
  2. PSA (Program Statement Analyzer) merupakan paket perangkat lunak yang mirip dengan kamus data (data dictionary) dan digunakan untuk mengecek data yang dimasukkan, disimpan, dianalisis dan yang dihasilkan sebagai output laporan.

Prototyping

            Prototyping adalah salah satu metode siklus hidup sistem yang didasarkan pada konsep model bekerja. Prototyping adalah bentuk dasar atau model awal dari suatu sistem atau bagian dari suatu sistem. Prototyping adalah proses pengembangan model awal tersebut untuk digunakan terlebih dahulu dan ditingkatkan terus menerus sampai didapatkan sistem yang utuh, artinya sistem akan dikembangkan lebih cepat daripada metode tradisional dan biayanya menjadi lebih rendah. Tujuan dari Prototyping ialah untuk memperkecil resiko rekayasa-ulang proses bisnis. Bila tidak mungkin dibuat prototipe-nya, maka dengan inovasi bertahap, sedemikian rupa sehingga manajemen dapat memimpin melalui serangkaian perubahan yang layak.  Prototype dapat memberikan ide bagi pembuat dan pemakai potensial tentang cara sistem berfungsi dalam bentuk lengkapnya.

Terdapat dua macam prototype, yaitu:

  1. Prototype yang akan dikembangkan menjadi system operasional, bentuk ini sering disebut sebagai evolutionary protoyipe.
  2. Prototype yang hanya akan menjadi cetak biru (blue print) dari system yang dikembangkan, bentuk ini sering disebut sebagai throwaway prototype.

Manfaat digunakannya prototype adalah membuat pengembang sistem dan pemakai mempunyai ide tentang bagaimana bentuk akhir dari sistem akan bekerja. Adapun kegiatan menghasilkan prototype disebut juga dengan prototyping.

  1. Tahap proses pembuatan prototype pertama  (evolutionary prototype):
    1. Tentukan kebutuhan. Tentukan apa kebutuhan user. Analis sistem mewawancarai user untuk mendapatkan ide tentang apa yang diinginkan oleh user dari sistem yang akan dikembangkan.
    2. Membuat prototype,  pada tahap ini analis sistem bekerja sama dengan ahli computer yang lain, dengan memanfaatkan satu atau beberapa alat bantu untuk pembuatan dan pengembangan prototype.
    3. Evaluasi, pada tahap ini analis sistem memperkenalkan prototype kepada user, menuntun user untuk mengenali karakteristik dari prototype. Dari kesempatan uji coba ini, user akan memberikan pendapatnya pada analis sistem. Kalau prototype diterima dilanjutkan ke tahap 4. Kalau ada perbaikan maka langkah berikutnya adalah mengulangi tahap1, 2 dan 3 dengan pengertian  yang lebih baik tentang apa yang diinginkan oleh user.
    4. Gunakan Prototype. Prototype menjadi sistem yang operasional.
    5. Tahap-tahap proses pembuatan prototype tipe kedua (throwaway prototype)
      1. Tentukan kebutuhan. Tentukan apa kebutuhan user. Analis sistem mewawancarai user untuk mendapatkan ide tentang apa yang diinginkan oleh user dari sistem yang akan dikembangkan.
      2. Buat prototype. Analis sistem bekerja sama dengan ahli computer yang lain, dengan memanfaatkan satu atau beberapa alat bantu untuk pembuatan prototype, mengembangkan prototype.
      3. Evaluasi. Analis sistem memperkenalkan prototype kepada user, menuntun user untuk mengenali karakteristik dari prototype. Dari kesempatan uji coba ini, user akan memberikan pendapatnya pada analis sistem. Kalau prototype diterima dilanjutkan ketahap 4. Kalau ada perbaikan maka langkah berikutnya adalah mengulangi tahap1, 2 dan 3 dengan pengertian yang lebih baik tentang apa yang diinginkan oleh user.
      4. Program sistem. Pemrogram memanfaatkan prototype sebagai pedoman untuk mengembangkan sistem yang operasional.

            Persamaan dan perbedaan dari dua prototype tersebut adalah :

  • Pada tipe pertama, prototype yang dibuat akan menjadi sistem operasional. Artinya prototype dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan bentuk akhir dari produk yang diinginkan.
  • Pada tipe kedua, prototype yang dibuat hanya akan memperlihatkan perkiraan bentuk sistemnya saja, tidak berisi komponen-komponen penting lainnya.

Manfaat dilakukanya prototyping:

  • Terjadi komunikasi antara user dengan pengembang sistem, sehingga Analis sistem dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan user
  • Peningkatan peran user pada pengembangan sistem
  • Sistem dapat dikembangkan lebih cepat
  • Tahap implementasi menjadi lebih mudah, karena user sudah mengenali apa yang dapat dihasilkan oleh sistem yang dikembangkan.

Ciri-ciri prototype yang baik adalah :

  • Beresiko tinggi. Problemnya tidak terstruktur dengan baik, perubahan-perubahan sering terjadi sepanjang waktu, dan kebutuhan datanya tidak tentu.
  • Dialog User – Komputer. Tampilan layar sebagai sarana interaksi antara user dengan computer.
  • Banyak User. Kesepakatan untuk rancangan rinci sulit diperoleh tanpa ebuah bentuk yang dapat diperlihatkan kepada user.
  • Ingin cepat selesai. User ingin segera melihat bagimana sistem bekerja
  • Singkat. Sistem hanya dipakai untuk jangka waktu yang singkat saja.
  • Inovatif.  Sistem adalah sesuatu yang sangat inovatif, me-manfaatkan teknologi perangkat keras maupun perangkat lunak yang canggih (terbaru).
  • Berubah-ubah. Sistem memahami apa yang diinginkan oleh user Aplikasi yang tidak mempunyai cirri-ciri seperti diatas, umumnya dapat dikembangkan dengan Daur Hidup Pengangmabnag Sistem Tradisional (klasik).

            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prototyping dapat menjadi suatu teknik yang baik dalam memperbaiki suatu sistem yang akan di implementasikan. Manfaatnya bagi end user ialah, end user akan menikmati hasil akhir atau dengan kata lain suatu sistem yang sudah diperbaharui, sehingga kemungkinan untuk terjadinya masalah sangat kecil, karena sistem akhir merupakan hasil-hasil perbaikan dari prototype. Sedangkan untuk IT spesialis dapat membantu mereka dalam pekerjaan mereka sebagai IT spesialis.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://cantony.wordpress.com/category/it/

http://studied-wall.blogspot.com/2012/04/sistem-informasi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Protoyping_perangkat_lunak

O’Brien JA, Marakas G. 2005. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc Graw Hill, Inc

http://umarmansyuri.wordpress.com/category/rekayasa-software/

http://yuliagroups.wordpress.com/pengertian-prototype/

PENERAPAN ENTERPRISE RESOURSE PLANNING (ERP) PADA PT YAKULT INDONESIA PERSADA

0

Ujian                           : Take Home

Mata Kuliah                  : Sistem Informasi Manajemen

Waktu Penyerahan         : 26 September 2012

Waktu  upload               : 25 September 2012

Dosen                          : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar belakang

            Dewasa ini perkembangan teknologi informasi telah menciptakan banyak terobosan baru dalam berbagai bidang. Teknologi bertujuan untuk memudakan suatu proses yang rumit menjadi lebih mudah. Perkembangan ini telah banyak membawa perubahan pada dunia, mulai dari gaya hidup, sistem kerja, dll. Adanya sistem internet dari PC ke PC, kemudian laptop, sampai ke telfon gengam, hingga saat ini yang terpopuler ialah Tab, memberikan kemudaahan terhadap akses bagi penggunanya untuk bertukar informasi, sehingga pengguna dapat memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan pekerjaan lainnya. Pada sebuah perusahaan saat ini teknologi yang berkembang ialah sistem jaringan, yang dapat menghubungkan seluruh unit komputer pada suatu area dan pada area lain yang berbeda lokasinya.

            Dalam sebuah perusahaan bisnis sebuah proses harus lah berjalan dengan efektif, untuk menunjang kebutuhan perusahaan akan persaingan yang semakin ketat. Implementasi teknologi informasi adalah jawaban yang paling tepat dalam menyelsaikan masalah ini, namun jika implementasinya tidak tepat akan menambah beban bagi  perusahaan. Oleh karena itu, implementasi teknologi informasi  sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan sistem yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan dapat meningkatkan efektifitas proses bisnis yang berjalan. Salah satu implementasi teknologi informasi yang banyak digunakan dan terbukti dapat meningkatkan efektivitas perusahaan adalah Enterprise Resourse Planning (ERP). ERP adalah suatu sistem informasi yang digunakan untuk mengintegrasikan proses dalam sebuah perusahaan. Sistem dalam ERP meliputi operasional dan distribusi yang dihasilkan. Tujuan dari implementasi ERP adalah menyatukan semua divisi yang ada dalam perusahaan menjadi satu sistem yang dapat dikendalikan secara terpusat. ERP lebih ditujukan pada sistem back-office, dimana sistem ERP tidak bersentuhan secara langsung dengan konsumen.

1.2 Tujuan

            Tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui penerapan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang terdapat pada PT. Yakult IndonesiaPersada.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Enterprise Resource Planning (ERP)

ERP merupakan sebuah framework transaksi enterprise yang menghubungkan proses pemesanan barang, manajemen inventarisasi dan kontrol, perencanaan distribusi dan produksi, dan keuangan. ERP bekerja sebagai kekuatan lintas fungsional perusahaan yang mengintegrasikan dan mengautomatisasi berbagai proses bisnis internal dan sistem informasi termasuk manufacturing, logistik, distribusi, akuntansi, keuangan, dan sumber daya manusia dari sebuah perusahaan (O’Brien, 2010).

ERP adalah sebuah sistem informasi perusahaan yang dirancang untuk mengkoordinasikan semua sumber daya, informasi dan aktifitas yang diperlukan untuk proses bisnis lengkap. Sistem ERP didasarkan pada database pada umumnya dan rancangan perangkat lunak modular. ERP berkembang dari manufacturing resource planning (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evolusi dari material requirement planning (MRP) yang berkembang sebelumnya.

ERP merupakan software yang mengintegrasikan semua departemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam satu sistem komputer yang dapat melayani semua kebutuhan perusahaan, baik dari departemen penjualan, HRD, produksi atau keuangan.

 

2.2 Konsep Dasar ERP

Konsep ERP adalah sebuah sistem yang mengintegrasikan proses setiap line dalam manajemen perusahaan secara transparansi dan memiliki akuntabilitas yang cukup tinggi. Untuk memasuki pasar internasional, ERP merupakan salah satu yang menjadi pra-syarat dasar bagi setiap perusahaan. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, dimana basis perekonomiannya bertumpu di bidang bisnis, maka efisiensi menjadi salah satu faktor yang cukup penting dalam setiap perusahaan. Pada kenyataannya, masih didapati banyak perusahaan berskala besar yang masih kurang efisien contohnya saja dalam penerapan ERP yang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi perusahaan. Jika dilihat dari kondisi perusahaan-perusahaan di Indonesia, banyak perusahaan besar yang belum cukup optimal dalam mengintegrasikan setiap proses dalam perusahaan tersebut ke dalam suatu sistem komputerisasi. Terlebih lagi pada perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, pengimplementasian ERP terasa sulit untuk diaplikasikan.

 

2.3 Teknologi Enterprise Resources Planning (ERP)

Pada suatu organisasi yang kompleks dengan banyak departemen yang menjalankan fungsi dan objektif masing-masing, kerapkali terjadi bias informasi, persepsi dan pengambilan keputusan antara satu unit departemen dengan unit yang lain. ERP merupakan sebuah konsep, teknik, ataupun metode guna mengintegrasikan seluruh departemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam suatu sistem automasi keseluruhan proses bisnis guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan. Manfaat dari ERP ini adalah:  integrasi bisnis secara keseluruhan, fleksibilitas dalam organisasi untuk bertransformasi dan meningkatkan turn-overnya, menciptakan analisa dan peningkatan kapabilitas yang lebih baik, serta penggunaan teknologi terbaru.

 

2.4 Keuntungan dan Kekurangan ERP

            Adapun teknologi yang digunakan oleh ERP pada saat ini tergolong dalam teknologi moderen, sistem ERP tetap memiliki kelebihan dan kekurangan, berikut kelebihan dan kekurangan dari ERP:

Kelebihanya yang didapat dengan menarap kan ERP pada perusahaan antara lain:

  1.      Integrasi data keuangan

Oleh karena semua data disimpan secara terpusat, maka para eksekutif perusahaan memperoleh data yang up-to-date dan dapat mengatur keuangan perusahaan dengan lebih baik.

  1.      Standarisasi Proses Operasi

ERP menerapkan sistem yang standar, dimana semua divisi akan menggunakan sistem dengan cara yang sama. Dengan demikian, operasional perusahaan akan berjalan dengan lebih efisien dan efektif.

  1.      Standarisasi Data dan Informasi

Database terpusat yang diterapkan pada ERP, membentuk data yang standar, sehingga informasi dapat diperoleh dengan mudah dan fleksibel untuk semua divisi yang ada dalam perusahaan.

Keuntungan diatas adalah keuntungan yang dapat dirasakan namun tidak dapat diukur. Keberhasilan implementasi ERP dapat dilihat dengan mengukur tingkat Return on Investment (ROI), dan komponen lainnya, seperti:

  • Pengurangan lead-time
  • Peningkatan kontrol keuangan
  • Penurunan inventori
  • Penurunan tenaga kerja secara total
  • Peningkatan service level
  • Peningkatan sales
  • Peningkatan kepuasan dan loyalitas konsumen
  • Peningkatan market share perusahaan
  • Pengiriman tepat waktu
  • Kinerja pemasok yang lebih baik
  • Peningkatan fleksibilitas
  • Pengurangan biaya-biaya
  • Penggunaan sumber daya yang lebih baik
  • Peningkatan akurasi informasi dan kemampuan pembuatan keputusan.

Kerugian yang mungkin terjadi ketika salah menerapkan ERP antara lain adalah:

  • Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan pengembangannya
  • Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran
  • Karyawan tidak siap untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru
  • Persiapan implementation tidak dilakukan dengan baik
  • Berkurangnya fleksibilitas sistem setelah menerapkan ERP

Kerugian diatas dapat terjadi ketika:

  • Kurangnya komitmen top management, sehingga tim IT kurang mendapat dukungan pada rancangan sistemnya. Hal ini bisa muncul karena ketakutan tertentu, seperti kawatir data bocor ke pihak luar. Selain itu, anggapan bahwa implementasi ERP adalah milik orang IT juga dapat membuat kurangnya rasa memiliki dari top management dan karyawan divisi lain. Padahal, implementasi ERP sebenarnya adalah suatu proyek bisnis, dimana IT hadir untuk membantunya.
  • Kurangnya pendefinisian kebutuhan perusahaan, sehingga hasil analisis strategi bisnis perusahaan tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Perusahaan sebaiknya menentukan dari awal, apakah perusahaan akan mengikuti standar ERP atau sebaliknya.
  • Kesalahan proses seleksi software, karena penyelidikan software yang tidak lengkap atau terburu-buru memutuskan. Hal ini bisa berakibat pada membengkaknya waktu dan biaya yang dibutuhkan.
  • Tidak cocoknya software dengan business process perusahaan.
  • Kurangnya sumber daya, seperti manusia, infrastruktur dan modal perusahaan.
  • Terbentuknya budaya organisasi yang berada dalam zona nyaman dan tidak mau berubah atau merasa terancam dengan keberadaan software (takut tidak dipekerjakan lagi).
  • Kurangnya training dan pembelajaran untuk karyawan, sehingga karyawan tidak benar-benar siap menghadapi perubahan sistem, dimana semua karyawan harus siap untuk selalu menyediakan data yang up-to-date.
  • Kurangnya komunikasi antar personel.
  • Cacatnya project design dan management.
  • Saran penghematan yang menyesatkan dari orang yang tidak tepat.
  • Keahlian vendor yang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Persaingan yang semakin ketat antar perusahaan menyebabkan pihak manajemen pada suatu perushaan meningkatkan kinerja perusahaannya,hal tersebut ditujukan agar perusahaan terus berkembang dan tidak ketinggalan dengan perusahaan lainnya.Untuk meningkatkan kinerja dari perusahaan, salah satu hal yang perlu dilakukan ialah: meningkatkan kualitas dari sistem yang berada dalam perusahaan tersebut. Enterprise Resource Planning (ERP) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk mengintergrasikan dan mengotomasikan  suatu pemrosesan data dalam bisnis. Dengan tersedianya data yang terintegrasi ini maka  informasi dapat didapat dengan cepat oleh pihak yang bertugas sebagai pengambil keputusan. Suatu sistem yang tidak terintegrasi dapat membuat sistem kerja lebih lama karena dengan tidak terintegrasinya setiap departemen di perusahaan menyebabkan antar departemen tidak dapat mengirimkan langsung hasil kerjanya ke departemen selanjutnya. Setiap hasil proses harus   dilakukan  print  terlebih  dahulu,  baru  dilakukan  pengiriman  ke  departemen selanjutnya.

 

PT.  Yakult  Indonesia  Persada  merupakan usaha  patungan  dengan status Penanaman Modal Asing (PMA) antara PT. Perkasa Simpati Persada dan Yakult Honsha Co.Ltd. (Jepang). Secara komersial Yakult mulai diproduksi pada tanggal 1 Januari 1991 dari pabrik di Jl. Kiwi Pekayon Pasar Rebo Jakarta. Pada tahun 1997 lokasi pabrik di Pasar Rebo yang kapasitas produksinya 720.000 botol per hari  dipindahkan  ke  Desa  Pesawahan,  Cicurug,  Sukabumi,  Jawa  Barat  dan kapasitas produksi  ditingkatkan menjadi 1.800.000 botol per  hari. Pada  bulan Desember  2001  PT.  Yakult  Indonesia  Persada  menjadi  PMA  murni  dengan permodalan dari Yakult Honsha Co. Ltd dan Yakult Management Service Co.Ltd di Jepang.  Perkembangan pesat yang diraih PT Yakult Indonesia Persada menyebabkan perusahaan harus mengembangkan suatu sistem dapat bekerja efektif. Hal ini bertujuan agar PT Yakult Indonesia persada dapat mengoptimalkan kinerja perusahaannya. Untuk mengatasi hal tersebut PT Yakult Indonesia persada mengimplementasikan SAP Business One, SAP Business One adalah sebuah Package Software ERP yang dikembangkan untuk mendukung sebuah organisasi/perushaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya secara lebih efisien dan efektif.  Dengan mengimplementasikan SAP Business One perusahaan dapat memperoleh informasi yang lebih  cepat, Saat ini PT Yakult Indonesia Persada menggunakan SAP Business One. Berikut skema SAP Business One pada PT Yakult Indonesia.

 

PT. Yakult  Indonesia  Persada tergolong dalam usaha skala menengah, oleh karena itu pemilihan SAP Business One sebgai ERP dari perusahaan adalah pilihan yang tepat, hal tersebut didasarkan dari segi biaya dan kebutuhan perusahaan. Dengan mengimplementasikan SAP Business One, PT. Yakult  Indonesia Persada dapat mendapatkan solusi berupa manajemen informasi yang terintegrasi, mulai dari  transaksi  bisnis,   pelaporan  dan  dokumentasi  seluruh  informasi  bisnis  dalam perusahaan secara real-time, cepat, dan efektif. SAP Business One merupakan sebuah solusi sederhana, namun kuat dan lengkap  baik  operasi  bisnis  dan  aktivitas. SAP  Business  One  merupakan Produk SAP dengan biaya terendah dan dapat  diimplentasikan  dalam beberapa hari serta dengan mudah dilakukan maintain.

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

            Kesimpulan dari makalah ini ialah: penggunaan software SAP Business One pada PT. Yakult Indonesia Persada dapat meningkatkan efektifitas operasional pada perusahaan, sehingga kinerja perusahaan dapat meningkat. Penerapan sistem ERP dengan software SAP Business One pada PT. Yakult Indonesia Persada adalah pilihan yang tepat, karena sesuai dengan kebutuhan dari perusahaan yang sedang berkembang pesat.

 

Daftar Pustaka

 

O’Brien JA, 2007. Management Information Systems :Managing Information Technology in the E-Business Enterprises. 10th Edition, Irwin Inc. Boston, 2007.

http://www.sap.com/indonesia/sme/howtobuy/businessone/index.epx

http://www.yakult.co.id/

Wihartanto Y. 2010. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Implementasi Sap Business One, Universitas Gunadarma [Skripsi]

Kata-kata motivas dari CEO

0

Gerard kleisterlee

  • Dalam Kondisi Kritis, kita harus tetap berkepala dingin.
  • Bagi saya yang terpenting adalah menjual pekerjaan.

 

Fred Hassan

  • Produk dengan harga rendah, tidak selalu menghasilkan margin yang rendah Ketika anda merasa tidak sanggup, balajar lah dari orang yang sanggup melakukannya.
  • Lakuakan lah sesuatu yang kita anggap benar, dan jangan biarkan orang lain mendikte kita.

The New York Times and Boston Scientific: Two Different Ways of nnovating with InformationTechnology

0

The New York Times dan Boston Scientific sama-sama memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung inovasi yang dijalankan perusahaan. Perbedaannya adalah, The New York Times mengedepankan keterbukaan dalam penyampaian berita dan informasi. Sedangkan, Boston Scientific lebih terbatas dan berhati-hati dalam penyampaian informasi yang menyangkut hasil penelitian.

The New York Times yang merupakan perusahaan penerbitan media massa telah mengangkat topik perkembangan IT sebagai ageda utama dari waktu ke waktu. Sebuah grup (divisi) penelitian dan pengembangan, yang didirikan tahun 2006, telah beroperasi dengan sistem layanan bersama. Inovasi The New York Times terlihat dari adanya NYTimes.com, aplikasi Times Reader  2.0, dan peta interaktif  Netflix.

Boston Scientific merupakan perusahaan yang bergerak di bidang peralatan medis dan kesehatan. Untuk mencegah kebocoran suatu aset intelektual (hasil penelitian) yang sangat berharga, perusahaan telah mengupayakan teknologi dan komposisi yang cocok untuk akses dan keamanan data, seperti terlihat pada penggunaan software Goldfire.

 

Pendekatan inovasi TI yang dilakukan The New York Times.

New York Times menciptakan grup penelitian dan pengembangan (R&D) pada tahun 2006 sebagai layanan bersama. Perannya adalah mempercepat dalam memasuki platform baru dengan mengidentifikasi peluang, konseptualisasi, dan membuat rancangan dari ide-ide yang ada.

Sebuah layanan bersama berarti bahwa grup (divisi) pendukung inovasi ini menjadi sumber daya yang tersedia untuk semua unit bisnis dalam organisasi The New York Times.

Secara umum, keuntungan dari penggunaan layanan bersama adalah:

  • Menyederhanakan beraneka ragam proses terkait dengan pengelolaan teknologi informasi.
  • Melakukan redesain terhadap manajemen teknologi informasi sehingga berbasis kebutuhan pelanggan melalui aktivitas operasional yang efektif.
  • Menghemat biaya total investasi dan pemeliharaan teknologi informasi yang harus dialokasikan oleh masing-masing perusahaan.
  • Mereduksi biaya total per karyawan dalam hal manajemen sistem informasi, terutama jika dilihat dari besarnya kebutuhan terhadap sejumlah perangkat teknologi informasi seperti perangkat keras, perangkat lunak, database, jaringan, infrastruktur, dan peralatan lainnya.

Sementara itu, pendekatan layanan bersama juga memiliki beberapa kerugian:

  • Adanya lapisan manajemen tambahan antara IT dan pengguna akhir (end-user) yang mengakibatkan hilangnya ketanggapan atau pertanggungjawaban kepada unit bisnis individu, serta mengurangi fleksibilitas.

Peran teknologi bagi Boston Scientific dalam pencapaian tujuan  perusahaan.

Teknologi berperan penting dalam pencapaian tujuan Boston Scientific. Karena keterbukaan informasi/data juga diperlukan antar peneliti (seperti contoh hasil penelitian terdahulu yang mendukung penelitian yang sedang dikerjakan saat ini) sementara tidak semua informasi dapat diakses.

Oleh karena itu perlu suatu terobosan yang melibatkan teknologi. Dalam kasus ini, Boston Scientific menggunakan perangkat lunak Goldfire yang mampu menggabungkan keterbukaan dengan keamanan data. Goldfire membuat alur kerja secara otomatis dari beberapa proses seperti menganalisa pasar dan menyarikan kekayaan intelektual. Hal ini mengkombinasikan data dari internal perusahaan dan dari sumber publik seperti database pemerintahan federal.

Sebelumnya, pengembang produk di Boston Scientific bekerja dengan software Silos yang aksesnya terbatas bila  digunakan untuk bekerjasama dengan rekan kerja pada lini produksi yang berbeda. Informasi begitu  tertutup  sehingga  bahkan  jika  ilmuwan  menemukan  sesuatu  yang bermanfaat dari proyek sebelumnya, mereka tidak dapat mengaksesnya. Sehingga diperlukan perubahan budaya agar tujuan keterbukaan sekaligus keamanan data tercapai, dimana Manajer Boston Scientific harus menghilangkan mentalitas “informasi silo” mereka dan melihat nilai dalam berbagi informasi secara terkendali dan akuntabel. Para pengelolanya juga harus belajar teknologi baru dan memasukkannya ke dalam proses sehari-hari.

Perubahan teknologi dan budaya perusahaan saling mendukung satu sama lain. Beberapa budaya beroperasi di bawah hirarki sosial yang ketat. Mengikutsertakan  pekerja untuk berpartisipasi dalam inisiatif perbaikan kualitas dengan menyediakan mereka dengan data produksi dan alat analisis akan bertentangan dengan budaya ini. Kecuali tim implementasi berhasil mengatasi hambatan budaya, manajer akan menolak berbagi informasi atau hanya menolak karyawan mereka mengakses ke sistem.

Manfaat yang didapat oleh Netflix Video Rental berkat bekerjasama dengan The New York Times.

Melalui kerja sama yang dilakukan New York Times dan Netflix berupa peta interaktif yang menampilkan popularitas film di beberapa kota besar di Amerika Serikat, Netflix bisa menggunakan data ini untuk mengidentifikasi kedekatan antara film dan memastikan bahwa pusat-pusat distribusi regional memiliki stok yang tepat untuk memenuhi permintaan yang diantisipasi.

MB IPB MARKETING CLASS (FIRST CLASS)

0

Adytia Pradnya Murti

Student of  Management and Business, Bogor Agricultural University

Class R-48

Lecture by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc

Manajemen Pemasaran merupakan salah satu mata kuliah yang menarik bagi saya, karena dalam mata kuliah ini dituntut untuk berfikir kreatif dalam menyusun strategi untuk bersaing. Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc merupakan salah satu dosen dalam mata kuliah Manajemen Pemasaran, kuliah dengan beliau sangat lah menarik karena beliau banyak memberi inspirasi mengenai strategi – strategi pemasaran dan mengajarkan suatu konsep yang baru bagi saya, yaitu konsep bauran pemasaran atau dalam bahasa inggris “marketing mix”, marketing mix terdiri dari 4 variable penting yang dekenal dengan istilah 4P, yaitu:

1. Product (produk), adalah sesuatu yang dapat ditawarkan pada suatu pasar untuk dapat dimiliki, digunakan, ataupun dikonsumsi, yang bisa memuaskan keinginan atau kebutuhan. Dapat berupa barang, jasa, pengalaman, ide, peristiwa, orang, tempat, properti, organisasi, dan informasi.

2. Price (harga), berupa sejumlah uang yang dibayarkan konsumen untuk membeli produk. Harga dapat digunakan untuk meraih hati konsumen, karena melalui potongan harga seperti diskon, konsumen mendapat “insentif”.

3. Place (tempat), disebut juga dengan saluran distribusi, yaitu kegiatan perusahaan agar produknya sampai ke konsumen sasaran.

4. Promotion (promosi), merupakan kegiatan perusahaan dalam memperkenalkan dan menyampaikan  produk beserta nilainya kepada konsumen. Promosi dapat dilakukan dengan mengadakan  promosi penjualan maupun iklan di media cetak maupun media elektronik.

Jika anda tertarik dengan penjelasan lanjut dari 4 variable tersebut,  Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc mengarang beberapa buku yang sangat menarik dan dapat menjadi suatu acuan bagi anda yang ingin mendalami pemasaran. Berikut adalah beberapa buka karangan Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M. Sc:

 

 

    

Hello world!

1

Welcome to Blog Mahasiswa MB IPB. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa MB IPB

Go to Top